BI Rate diprediksi Turun Jadi 5,75 Persen

Bank Indonesia (BI) diprediksikan akan memangkas suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 0,25% menjadi 5,75% pada kuartal I 2012. BI rate akan bertahan di level tersebut hingga awal tahun mendatang.

“Kami perkirakan setelah menerungkan ke level 5,75% BI akan menjaga BI rate di level tersebut sampai akhir tahun,” ujar Ekonom Senior Standard Chartered Bank Fauzi Ichsan dalam seminar ekonomi tahunan Standard Chartered Bank di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (11/1).

Fauzi mengungkapkan, untuk mengurangi dampak perlambatan ekonomi dunia, BI memangkas BI Rate sebanyak 75 basis poin ke posisi 6% pada kuartal IV 2011.

Angka tersebut merupakan level BI rate terendah dalam sejarah Indonesia. Akan tetapi Fauzi berpendapat untuk tahun ini BI tidak akan lagi memangkas suku bunga acuan tersebut secara agresif seperti akhir 201.

Standard Charted memperkirakan BI tidak lagi memangkas BI rate secara agresif seperti yang dilakukan pada kuartal keempat tahun. Ia pula memperkirakan BI tidak akan agresif mengurangi ketentuan cadangan (GWM) perbankan yang saat ini diatur 10,5% dari DPK rupiah.

Ekonom Standard Chartered Indonesia Eric Alexander Sugandi menambahkan bank sentral baru akan menaikkan BI rate pada kuartal I 2013 pada saat partai politik mulai berkampanye.

“Dalam jangka panjang di Kuartal I 2013 naik karena mendekati pemilu, Parpol akan spending,” ujarnya,

Ia memprediksikan penurunan BI rate menjadi 5,75% akan dilakukan BI pada bulan Maret mendatang.

Namun demikian, menurutnya bisa saja mengalami penundaan apabila muncul kekhawatiran pemerintah dan BI terhadap naiknya inflasi akibat pembatasan BBM subsidi dan kenaikan Tarif Dasar Listrik (TDL).

“BI rate kan tetap di bulan Januari sampai Febuari. Kemungkinan naik pada bulan Maret. Tapi jika pemerintah khawatir dengan naiknya BBM kemungkinan akan postponed (ditunda),” ujar Eric.

Pada kesempatan yang sama Eric memprediksikan inflasi tahun ini akan lebih tinggi dibanding inflasi tahun 2011 yang sebesar 3,79%, yakni berada pada level 5%, dengan memperhitungkan imbas dari pembatasan subsidi BBM dan kenaikan TDL.

“Yang belum diperhitungkan kalau hujan berkepanjangan dan panen terganggu,” jelasnya.

Sementara itu, rencana pemberlakuan pembatasan subsidi BBM dan kenaikan TDL akan memiliki dua efek terhadap inflasi. Pada efek putaran pertama, Eric menuturkan pengaruh keduanya akan berimbas pada kenaikan inflasi sebesar 0,6-0.7%. Pada putaran pertama, yang akan langsung mendapat imbas adalah sektor transportasi. Sementara itu efek putaran kedua dari penerapan kebijakan itu bisa mengakibatkan inflasi naik lebih tinggi lagi.

“Bisa lebih tingg kalau secodary effectnya masuk. Jadi first round yang kena sektor transportasi dulu. Second round akan kena ke sektor-sektor lain yang berhubungan dengan transportasi.

Selain itu, lanjut Eric, perlu diperhatikan harga pangan, pasalnya harga pangan mentah dan volatile food memberi kontribusi 36% pada inflasi inti. Apalagi, penerapan BBM subsidi diperkirakan akan dilakukan pada April mendatang. Dengan asumsi pada bulan tersebut ada panen raya.

“Restriksi BBM bersubsidi perlu diingat juga itu diberlakukan di bulan april, asumsinya karena bulan april terjadi panen raya dari Maret sampai April,” tuturnya. (AI/OL-3)

Sumber: Media Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>