Multifinance Pertahankan DP 10%

Isu peningkatan uang muka kredit otomotif menjadi 30% menjadi ‘alat’ ampuh dalam menggenjot angka penjualan kendaraan. Tenaga pemasaran mengiming-imingi lebih baik membeli kendaraan saat ini, sebelum down payment (DP) meningkat.

Demikian disampaikan Ketua I Gaikindo, Jongkie D. Sugiarto di Financial Hall, Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (27/9/2011).

“Isu ini dimanfaatkan tenaga sale kita. Ayo beli sekarang, sebelum DP-nya naik,” tuturnya.

Namun, ‘alat’ ini hanya bersifat jangka pendek. Dan jangan sampai pemberlakuan kenaikan uang muka teralisasi. Pasalnya dengan DP 30% ada potensi penurunan permintaan akan kendaraan.

“Isu ini ya jangan sampai bener terjadi. Karena akan berpengaruh kepada industri,” ucap Jongkie.

Berdasarkan catatan Gaikindo, penjualan otomotif di 2010 mencapai 764.710 unit. Indonesia hanya bersaing ketat dengan permintaan Thailand dan Malaysia, yang masing-masing mencapai 800.357 unit dan 605.156 unit.

Sementara, produksi otomotif Indonesia tahun lalu mencapai 702.508 unit. Artinya ada defisit produksi, ditengah banyaknya permintaan akibat kenaikan daya beli masyarakat.

Pada periode Januari-Juli 2011 pun, perjualan kendaraan dari masyarakat tetap tinggi, atau mencapai 506.914 unit, dimana rata-rata produksinya hanya 467.418 unit. Sampai akhir tahun pun, Gaikindo optimis dapat mencapai angka penjualan 850 ribu unit.

Asosiasi Multifinance Tak Khawatirkan Bubble Kredit Otomotif 

Peningkatan kredit konsumsi 30% yang utamanya didorong oleh pembiayaan otomotif tidak perlu dikhawatirkan secara berlebih. Naiknya permintaan akan kendaraan menunjukkan tingkat daya beli masyarakat yang semakin kuat.

Demikian disampaikan Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Wiwie Kurnia di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (27/9/2011).

“Kita ini aneh, saat turun kita sudah meningkatkan. Saat naik disuruh stop. Selama ini kan pertumbuhan ini didukung oleh buying power yang juga meningkat,” katanya.

Sampai dengan akhir tahun, kredit konsumsi diperkirakan naik 24-25%, atau menurun dari posisi saat ini yang mencapai 30%.

Sebelumnya, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Muliaman Hadad mengaku, pertumbuhan kredit konsumsi terutama di sektor otomotif cukup tinggi. Bank sentral memberi perhatian khusus untuk memantau kredit tersebut.

Atas pertimbangan tersebut, bank sentral mempunyai beberapa opsi untuk mengatur lebih jauh mengenai pesatnya kucuran kredit di sektor kendaraan bermotor ini. Terutama, sambungnya adalah mengaitkan kredit lebih kepada nilai alias loan to value.

“Pertumbuhan kredit konsumsi sebenarnya masih lebih kecil dibandingkan tahun lalu, tetapi ada beberapa sektor dan sub sektor yang mendapat perhatian lebih kita karena relatively pertumbuhannya sudah di atas 30% seperti kredit otomotif kendaraan roda empat,” ungkap Muliaman.

Multifinance Pertahankan DP Kredit Otomotif 10% 

Perhitungan uang muka (down payment) yang ideal atas kredit otomotif dari pelaku industri pembiayaan (multifinance) adalah 10%. Saat wacana uang muka akan diperbesar, para pelaku justru mengkhawatirkan nantinya akan mengurangi minat permintaan unit kendaraan dengan sistem mengangsur.

“Yang ideal down payment 10% sudah oke,” ungkap Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), Wiwie Kurnia di Graha Niaga, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (27/9/2011).

Wacana peningkatan uang muka, bukan menjadi solusi atas kredit bermasalah alias (NPL/Non Performing Loan) pada perusahaan pembiayaan. Namun profil risiko atas masing-masing nasabah. Saat profil risiko rendah, bisa saja DP jauh lebih rendah, karena ada keyakinan dari perusahaan multifinance akan pembayaran.

“DP diaturan, bukan berapanya. Tapi kepada siapa. Kalau konsumennya aman, ya aman. Bukan besarnya berapa, tapi NPL kita yang menurun. Dan terbukti turun, dari 2008 2,7% menjadi 1,3%,” paparnya.

Memang bank sentral telah memperingatkan adanya bubble di sektor otomotif. Beberapa perubahan tengah disiapkan seperti rencananya menaikkan uang muka.

“Misalnya kita mau beli mobil kan bank bayarin 90% kita bayar 10%. Makanya kita nanti DP diperbesar. Angkanya nanti yah,” tegas Deputi Gubernur BI Hartadi Agus Sarwono kala itu.

Kredit Konsumsi, berdasarkan data BI hingga Agustur 2011 mencapai Rp 113 triliun. Angka ini bertumbuh 6,2% sepanjang tahun (YtD) dan 23,2% secara year on year (YoY). BI mengungkapkan pertumbuhan ini sudah mendekati ambang batas BI.

Ketua Bapepam-LK, Nurhaida menerangkan, kenaikan uang muka pada pembiayaan otomotif membawa misi untuk meminimalkan kredit macet. Namun implementasi aturan, diharapkan bisa memperhatikan kepentingan pelaku industri, baik perusahaan otomotif atau multifinance.

“Kami akan bicara nanti, disesuaikan dengan industri. Multifinance seperti apa. Batas minimum DP merupakan semangat dalam keamanan pembiayaan. Risiko seperti apa? Kemudian, NPL sepeti apa? Ini tengah dibahas, dan coba secara dalam dilihat,” imbuh Nurhaida.

Via detikOto

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>